Bodoh, Pintar dan Bijak ~ Pada pembahasan terdahaulu, kita membahas tentang hebatnya sebuah buku The 8th Habit yang bisa menjadikan anda menjadi individu tangguh dan mandiri. Kali ini kita akan berbicara seputara "Bodoh, Pintar dan Bijak ".
Adalah tugas kebodohan untuk belajar agar menjadi pintar. Adalah tugas kepintaran agar belajar menjadi bijak. Jika pintar saja, tidak ada jaminan untuk bijak, apalagi jika bodoh. Tapi anehnya, menjadi pintar tanpa bijak akan menghasilkan bahaya yang lebih besar ketimbang bodoh.
Bodoh meski bahaya tapi dayanya terbatas. Hutan akan baik-baik saja
walau dicuri setiap hari bahkan oleh gabungan pencuri sekalipun,
sepanjang mencuri itu hanya dilakukan oleh penduduk sederhana yang butuh
untuk membuat rumah dan perabot. Tapi cukup dengan seorang pencuri
pintar saja, maka seluruh hutan bisa lenyap dikuras ke luar negeri. (
coba anda baca ulasan yang berkaitan dengan hal ini : Berbuat Curang )
![]() |
| Bodoh, Pintar dan Bijak |
Melihat gelagatnya, pintar jenis inilah yang
sekarang berkembang. Banyak kebodohan beranjak jadi pintar, tapi pintar
tetap ditempatnya, kecuali untuk jadi alat kepentingan saja. Banyak
kepintaran melihat peluang. Cepat menangkap prospek udang import
misalnya, maka untuk salanjutnya akan membuahkan tambak-tambak
terbengkalai dan ekologi pantai yang rusak. Pintar menciptakan proyek
dan mengkreasi anggaran, tapi pembangunan seperti tidak menuju
kemakmran. Bukan daya gunanya tapi hanya pembangunan fisiknya.
Rumah ibadah dibaguskan dimana-mana. Tapi apa jadinya jika yang bagus cuma tembok, lantai dan atap, tapi tidak pada tata nilainya. Apa jadinya kalau pembangunan salah orientasi? Cuma berujung ironi. Akan banyak ilmu tak bermanfaat, banyak massa tidak menghasilkan apa-apa, bayak orang beribadah tapi sedikit yang diberi pentunjuk. Coba anda simak ulasan saya sebelumnya tentang Cara Mencicipi Kelezatan Iman
Kepintaran sungguh alat menuju bijak, bukan kepentingan. Kemerosotan yang pernah kita alami adalah hasil penurunan kepiƱtaran dan kebijaksanaan. Jika ransum atlet dikorupsi, maka sulit untuk meminta atlet berperstasi. Bukan karena otot mereka lemah, tapi karena hatinya lemah oleh luka dan kecewa. Sepakbola bukan cuma urusan menendang bola, tapi juga organisasi. Organisasi di lapangan saja rumit, sehingga perlu mendatangkan pelatih dari luar negeri. Organisasi di luar lebih rumit lagi, apalagi untuk diisi oleh sekedar kepintaran dan jadi alat kepentingan. Seluruh sepakbola besar di dunia lahir ternyata lewat proses yang besar. Jadi kita tidak sedang kalah dalam soal bakat, tapi dalam tirakat. Dan tirakat itu sulit dilakukan oleh pihak yang hanya berisi kepentingan.
Rumah ibadah dibaguskan dimana-mana. Tapi apa jadinya jika yang bagus cuma tembok, lantai dan atap, tapi tidak pada tata nilainya. Apa jadinya kalau pembangunan salah orientasi? Cuma berujung ironi. Akan banyak ilmu tak bermanfaat, banyak massa tidak menghasilkan apa-apa, bayak orang beribadah tapi sedikit yang diberi pentunjuk. Coba anda simak ulasan saya sebelumnya tentang Cara Mencicipi Kelezatan Iman
Kepintaran sungguh alat menuju bijak, bukan kepentingan. Kemerosotan yang pernah kita alami adalah hasil penurunan kepiƱtaran dan kebijaksanaan. Jika ransum atlet dikorupsi, maka sulit untuk meminta atlet berperstasi. Bukan karena otot mereka lemah, tapi karena hatinya lemah oleh luka dan kecewa. Sepakbola bukan cuma urusan menendang bola, tapi juga organisasi. Organisasi di lapangan saja rumit, sehingga perlu mendatangkan pelatih dari luar negeri. Organisasi di luar lebih rumit lagi, apalagi untuk diisi oleh sekedar kepintaran dan jadi alat kepentingan. Seluruh sepakbola besar di dunia lahir ternyata lewat proses yang besar. Jadi kita tidak sedang kalah dalam soal bakat, tapi dalam tirakat. Dan tirakat itu sulit dilakukan oleh pihak yang hanya berisi kepentingan.
Bodoh, Pintar dan Bijak
memang terkadang membuat kita tidak sadar, apakah kita ini sudah dalam
posisi bodoh atau pintar. Namun masih banyak yang belum paham benar
hakikat bijak, sehingga timbul bahwa pintar berarti bijak. Padahal
kepintaran yang digunakan dengan cara yang benar barulah lahir hal
bijak. Langkah pertama tentu saja kita bisa sadar Pentingnya Merenungi Diri
Sumber : http://manajemenemosi.blogspot.com/2011/09/bodoh-pintar-dan-bijak.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar